Archive | Submission RSS for this section

Rumah Abu Han Sketch

Rumah Abu Han, Jalan Karet 72 Surabaya

Ary Hartanto

Ary Hartanto adalah seorang arsitek gaul sekaligus moderator Forum National Geographic Indonesia di kala senggang. Kebetulan ia sedang mampir di Surabaya untuk menghabiskan jatah libur akhir tahun. Jadilah ia menjadi obyek untuk meramaikan kegiatan Traveler In Residence dengan cara sumbang karya. Ary, mengagumi kawasan kota tua Surabaya. Selama di Surabaya, Ary melakukan heritage trip dengan menyusuri kawasan Surabaya utara yang penuh dengan gedung peninggalan kolonial, kawasan pecinan, dan Kampung Ampel yang eksotis.

Rumah Abu Han, salah satu bangunan klasik di pecinan, segera menjadi obyek yang ia gambar. Kemampuan sketsa arsitekturalnya ia tumpahkan dengan metode quick sketching. Ia menarik garis bantu dengan pensil lantas menumpuknya dengan tinta Boxy yang lebih tegas. Simpel namun memiliki perspektif arsitektur yang begitu kentara.

“Sebetulnya aku lebih tertarik dengan lorong yang ada di samping Rumah Abu Han. Sebuah gang tua yang penuh lumut memancing rasa ingin tahuku; ada apa di ujung lorong sana? Karena biasanya kawasan pecinan dibangun dengan sistem berlapis,” kata Ary yang juga menggemari fotografi ini.

Ayos Purwoaji

Pegupon Study

Pegupon "Sume" di Stren Kali Jagir, Wonokromo

Sebagaimana diketahui bahwa program Traveler In Residence ini bersifat multirespon. Jadi siapapun yang ingin menggambar tentang Surabaya, silahkan di-submit untuk kami tampilkan dalam blog ini. Saya juga ingin turut andil. Sebagai seorang mahasiswa Desain Produk semester akhir (yang belum juga berakhir), Saya mencoba memanaskan suasana dengan turut menyumbang sketsa. Meskipun seganteng Primus Yustisio, namun kualitas sketsa saya berkualitas “ala kadar” saja. Tapi biarlah, yang penting semangatnya bukan?

Menurut Profesor Josef Prijotomo, guru besar Arsitektur ITS, pegupon (rumah burung dara yang terbuat dari kayu dan triplek) adalah bentuk arsitektur asli Surabaya. Entah benar atau tidak. Tapi memang fenomena pegupon ini memang masif dan bisa ditemui di mana pun di Surabaya.

Entah bagaimana awalnya desain pegupon sampai di Ujung Galuh (nama Surabaya pada zaman Majapahit). Bentuknya hampir seragam; terletak di atas wuwungan rumah atau di muka halaman, berbentuk seperti miniatur rumah dengan atau tanpa tingkat, dan biasanya berwarna ngejreng.

Saat berjalan-jalan di sepenjang stren Kali Jagir, saya banyak menemukan pegupon yang unik. Ada yang berwarna pink atau kuning menyala. Ada yang ditempeli stiker berbagai rupa. Ada pula yang berwarna biru dengan tulisan logo band Anthrax.

Satu yang menarik perhatian saya, yaitu sebuah pegupon bertuliskan SUME yang menjorok di bibir sungai. Saya nggak tahu apa arti ‘sume’, tapi kata Tinta, artinya adalah,”Tersenyum tapi nggak senyum…” Apakah Anda bisa memvisualisasikannya? Sume adalah pegupon bertipe mewah karena bertingkat dua. Saya mengira ada sekitar delapan ekor burung dara yang bisa tinggal dan menjalin kasih di dalamnya. Saya senang melihat beberapa burung dara bersliweran keluar masuk sume.

Berkat sume, saya jadi ingin mendokumentasikan berbagai bentuk pegupon di Surabaya yang tidak jarang berbentuk unik!

Ayos Purwoaji