Archive | Ajeng’s Note RSS for this section

Careful What You Wish For

Komik buatan Herajeng Gustiayu dalam pengalamannya berjalan kaki di Surabaya dalam bimbingan Suhu Anitha Silvia aka Tinta. Sebenarnya komik ini dibuat untuk Halimun Zine edisi pejalan kaki yang akan terbit bulan depan. Tapi yasudahlah kami bajak dulu. Hehehe. Silahkan diklik untuk ukuran yang lebih besar!

Thanks to Anitha Silvia and Halimun Zine.

Advertisements

Suro-boyo

Herajeng Gustiayu menuliskan sebuah catatan mengenai patung Suro dan boyo -lambang kota Surabaya- di majalah online Travelist. Tampaknya selama residensi Ajeng memiliki perhatian mendalam pada landmark Surabaya yang berupa ikan dan krokodil ini. Tulisan Ajeng menitikberatkan pada hubungan antara folklore sebuah kota dan identitas penduduknya. Ajeng mengemukakan tiga cerita rakyat yang berhubungan dengan lambang kota ini.

Pada akhir artikel, Ajeng menulis;

Mengkaitkan asal-usul nama Surabaya dengan karakter asli penduduk Surabaya (Jawa Timuran) yang relatif lebih keras, percaya diri, dan berani dibandingkan dengan penduduk Jawa lainnya nampaknya juga pas. Apalagi jika dikaitkan dengan karakter bonek yang terkenal beringas itu, di otak saya terbayang kembal pertempuran Suro dan Boyo membela kepercayaan masing-masing hingga titik darah penghabisan. Mungkin karena itu juga lah, simbol Suro dan Boyo diambil dengan bangga sebagai lambang Kota Surabaya.

House of Sampoerna

 

Bus Surabaya Heritage Trip

House of Sampoerna, 6-7 Desember 2011

Bangunan di depan saya ini membuat saya kagum saat pertama kali melihatnya. Begitu memasuki pelataran depan, suasana asri dengan tanaman hijau dan pepohonan rendah langsung menyambut kami. Sekumpulan bangunan lama namun terawat itu memilliki langgam arsitektur bergaya art deco (mudah-mudahan otak arsitek saya masih berfungsi dengan benar) dan sempat berfungsi sebagai rumah. Kini bangunan ini difungsikan sebagai museum yang berisikan dokumentasi sejarah keluarga dan bisnis perusahaan rokok besar Sampoerna, House of Sampoerna. “Keren juga nih museum,” pikir saya.

Saat ini sudah dua kali saya datang ke House of Sampoerna (HoS) dan masih tertarik untuk mengunjungi museum unik ini di lain waktu. Kunjungan pertama bersama Putri hanya berselang sehari sebelumnya, namun saat itu kami hanya melihat-lihat bagian dalam museum dan pameran foto yang sering diadakan di paviliun barat. Uniknya, di dalam museum ini juga terdapat pabrik yang lengkap dengan pekerja-pekerja yang sedang melinting dan mengemas rokok dengan kecepatan yang luar biasa, nyaris seperti mesin. Rupanya, dulu pendiri Sampoerna memiliki konsep untuk mendekatkan rumah dan pabrik di satu tempat, hal ini bertujuan agar mereka dapat dengan mudah mengontrol pabriknya. Hebat ya!

“Put, mereka ini aktor apa beneran pekerjanya sih?” tanya saya tercengang saat menjejakkan kaki di lantai dua museum. Terlihat beberapa pekerja wanita yang sedang melinting rokok dengan cekatan, kami hanya dipisahkan oleh sebuah dinding kaca di sebelah kiri saya. “Kayanya beneran deh, Mbak,” jawab Putri sopan, tapi saya yakin dia heran dengan pertanyaan saya yang agak aneh itu. Beberapa langkah ke depan, saya kembali dikejutkan oleh pemandangan ratusan pekerja yang berada satu lantai bawah kami. Mezanin dengan batas dinding kaca lagi-lagi memisahkan area para pengunjung dan pekerja-pekerja tersebut. Saya meraih kamera saya, tapi sebelum saya sempat menekan tombol, seorang petugas wanita langsung mencegah saya mengambil gambar. Hehe, saya lupa di lantai dua yang sekaligus tempat belanja buah tangan itu tidak diperbolehkan mengambil foto maupun video tanpa ijin. Maaf ya, Mbak.. Saking kagumnya, saya jadi lupa peraturannya deh..

Sebenarnya hari itu jadwal kami adalah ikut tur yang rutin diadakan oleh HoS, tapi kami telat datang sehingga baru akan ikut untuk jadwal besoknya. Menariknya, tur ini gratis! Kita bisa mendaftarkan diri sesuai dengan jadwal yang kita inginkan, biasanya tur akan dimulai pada pukul 09.00, 13.00, dan 15.00 dengan rute yang berbeda-beda. Special Theme untuk bulan Desember ini adalah mengunjungi pabrik-pabrik tua di Surabaya, antara lain Pabrik Limun (Sirop), Pabrik Kecap Jeruk Pecel, dan Pabrik Misua. Dalam tur ini kita akan diajak berkeliling dengan bus khusus berwarna merah menyala dan luar biasa keren, menurut saya. Bus ini mengingatkan saya akan bus pariwisata di Penang yang juga secara cuma-cuma mengantarkan turis berkeliling kota tua tersebut. Kualitasnya sudah cukup nginternasional deh, pokoknya.

Very recommended! []

Herajeng Gustiayu

Busy Sunday

Tugu Pahlawan, Minggu pagi 11 Desember 2011

“Eh, aku mau itu, Mbak!” seru Putri sambil menunjuk dorongan pedagang kaki lima berisi potongan mangga dingin dan segar. Saat itu kami masih berada di atas sepeda motor Putri yang bernama Bonita, sedang berusaha mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk Monumen Tugu Pahlawan. Cuaca Minggu pagi itu masih tampak bersahabat dengan awan mendung menggantung. Namun sekitaran Tugu Pahlawan telah penuh dengan berbagai macam pedagang kaki lima dan pengunjung yang sedang berwisata ke tempat ini.

Mata saya sekilas menangkap ada dorongan pedagang bertuliskan kreco di samping pedagang mangga. Aha! Baru kemarin saya membaca tentang cemilan kaki lima berbahan baku sejenis bekicot atau siput yang dibumbui bernama Kreco. Saya pun langsung berniat untuk mencoba makanan yang terdengar unik ini sehabis mengunjungi Tugu Pahlawan.

“Aku belum pernah masuk ke dalem (Tugu Pahlawan) lho,” jelas Putri yang sudah tinggal selama 7 tahun di Surabaya. Hmm, mungkin sama seperti saya yang belum pernah naik ke puncak Gedung Sate di Bandung, padahal saya sempat tinggal beberapa tahun di Kota Bunga tersebut.

Setelah membayar tiket masuk dan masuk ke dalam, kami pun berspekulasi tentang pilar-pilar di belakang patung Soekarno-Hatta. Putri bertanya-tanya apakah pilar-pilar yang bertuliskan seruan-seruan  “Merdeka ataoe mati!” dan “Allied forces go away!” itu asli apa bukan. (Jawaban untuk saat ini: pilar-pilar itu sepertinya cuma replika dari pilar gedung Raad van Justitie yang digunakan sebagai markas tentara Jepang yang dibakar dan dihancurkan oleh pejuang Surabaya pada pertempuran 10 November dan kini lokasinya menjadi area Tugu Pahlawan, CMIIW)

Memasuki Museum 10 November, saya seakan-akan diingatkan kembali tentang pelajaran sejarah saat SD. Sejarah perebutan dan pertahanan kemerdekaan Indonesia di otak saya yang terbolak-balik terasa disegarkan kembali. Beginilah kalau belajar sejarah hanya menghafal dan tidak dipahami, gampang lupanya!

Saat menatap patung pejuang kemerdekaan yang mengacungkan senjata dan tampak berseru ke arah bendera merah putih di bagian tengah museum, saya tiba-tiba merasa malu sendiri. Mereka sudah susah-susah merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah, sampai saat ini saya sudah berbuat apa saja ya untuk bangsa sendiri? Menularkan virus traveling itu termasuk apa ngga ya? Hehe..

Setelah puas berkeliling dan membaca sejarah pertempuran 10 November serta sejarah pendirian bangunan museum ini, kami pun hunting potongan mangga dan kreco. Mengingat cuaca di luar yang semakin terik, rupanya banyak pedagang yang telah membereskan jualannya dan pulang, termasuk pedagang mangga dan kreco. Kami pun berdesah kecewa … sampai tiba-tiba Putri berseru, “Mbak, itu kreco juga!” sambil menunjuk ibu-ibu yang mendorong gerobak bertulisan kreco Rp 5000 / sate kul Rp 1000.

“Ayo hadang dia Put!” seru saya berkelakar. Putri tertawa dan mengejar si ibu-ibu. Ah ternyata kreco-nya sudah habis, tinggal sate kul. Bahan dasarnya sih sama, sejenis keong-keongan, bedanya kalau kreco pakai kuah, kalau sate kul ya keong bumbu yang disate, demikian penjelasan si ibu-ibu itu. Kami langsung membeli lima tusuk.

Begitu kunyahan pertama tertelan, kami hanya terdiam. Dagingnya terasa agak alot, mirip dengan tektur kerang, bumbu rempahnya terasa kuat di lidah dengan sedikit rasa pahit. “Hmm, rasanya aneh,” Putri pun memutuskan untuk menyimpan sate kul-nya untuk lain kesempatan. Saya habis satu tusuk dan tidak tertarik untuk melanjutkan tusuk kedua.

“Kita sisain yuk buat anak-anak C2O,” saran saya jenius. Putri hanya tertawa lepas, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

Stadion Tambaksari, sore 11 Desember 2011

Jadikan perjalananmu sebagai tantangan.

Salah satu prinsip saya sebagai traveler tersebut sepertinya benar-benar terpakai untuk jadwal hari Minggu kali ini (11/12). Sampai sekarang saya masih suka heran kenapa saya kok mau-maunya diajakin nonton bola di Stadion Gelora 10 November, padahal kalau sedang iseng ikut nonton bola di tivi saja saya lebih sering ketiduran. Lapangan bola yang hijau dan white noise sorak sorai supporter seakan-akan sengaja meninabobokan saya. Mau pemainnya seganteng apa pun, rasanya tidak berpengaruh bagi saya. Ah, pokoknya kalau soal bola, saya benar-benar buta deh!

“Kamu harus ngeliat bonek, Mbak!” demikian perintah Ayos untuk program perjalanan paling serem dan ciamik se-Indonesia ini, Traveler in Residence (TiR). Tadinya sih saya biasa saja mendengarnya, tapi rada jiper juga saat Simbah mengatakan “Siap-siap aja, bonek itu terkenal beringas,” ketika bertugas mengantarkan saya menonton pertandingan Liga Premier Persebaya vs. Semen Padang FC.

Bonek itu singkatan dari bondo nekat, yang arti bahasa Surabaya-nya: Modal Nekad,” jelas Putri saat paginya mengantar saya berkeliling Tugu Pahlawan dan kawasan Pecinan. Oke. Tidak cukup membantu menenangkan rasa deg-deg-an saya.

Bagi yang buta bola seperti saya, begini penjelasan singkatnya: Bonek itu adalah sebutan dari suporter Persebaya, tim sepakbola Surabaya. Mengutip penjelasan Simbah, aliansi Persebaya adalah Persib, sedangkan musuhnya adalah Persija dan Arema. Warna tim Persebaya dominan hijau. Hmm, apa lagi ya… sementara itu dulu deh, kapasitas otak saya memang terbatas kalau soal bola, hehe..

Tapi sekarang saatnya menyingkirkan rasa deg-deg-an, karena tiket seharga Rp 50 ribu itu sudah ada di tangan saya. Gelora 10 November terlihat begitu ramai dan meriah dengan warna hijau ketika jam nyaris menunjukkan pukul tujuh sore, saat pertandingan dimulai.

Antrian bonek-bonek berkaus dan berselendang hijau bertuliskan Viking-Sebaya-Sehidup-Semati-atau-apalah-itu tampak mengular di luar gerbang stadion. Lucunya, lama kelamaan saya kok malah ketularan rasa semangat para bonek ini. Seulas senyum pun mulai terungkit di wajah saya, dan semakin berkembang saat menyadari bahwa ini pertama kalinya saya nonton bola di stadion. Namun senyum saya meredup tatkala saya merasakan tetesan air di kepala saya, membuat saya otomatis mendongak menatap langit malam. Semoga tidak hujan, batin saya dalam hati.

Tiket disobek. Masuk gerbang. Naik tangga. Cari posisi. Sorak sorai bergemuruh. Pertandingan dibuka. Hujan deras disertai angin kencang pun tiba. Dem, umpat saya dalam hati.

Hymne Persebaya terdengar dinyanyikan secara bersemangat di tengah hujan angin yang semakin deras. “Kurang nasionalis apa lagi coba?!” seru Simbah sambil tertawa-tawa. Saya membalas tertawa sambil mengamati lapangan hijau yang mulai tampak becek oleh hujan. Seorang bapak di depan saya tampak menaungi kepala anaknya dengan jaket biru yang dibawanya. Para bonek di sekeliling saya terlihat tetap bersemangat dalam euforia walaupun sekujur tubuh dan pakaian mereka basah kuyup oleh hujan. Jaket saya pun mulai terasa basah oleh hujan. Tas saya juga mulai terasa berat oleh rembesan air hujan. Oh, hujan… hujan… Nakal sekali dirimu. Saya yang saat itu juga telah basah kuyub dari atas sampai bawah hanya menatap hampa ke arah lapangan, mencoba berkonsentrasi, dan sesekali ikut berseru saat bola nyaris masuk ke gawang lawan. Duh, kaga ngerti ah ane..

Sayangnya level semangat saya tidak sama dengan para bonek ini. Begitu babak pertama berakhir dengan kedudukan sementara 0-1 antara Persebaya terhadap Semen Padang FC, saya menyerah. Saya memilih untuk tidak melanjutkan menonton karena tidak tahan oleh tiupan angin kencang disertai terpaan hujan yang cukup membuat menggigil. Cemen sekali ya saya, huahaha..

Pokoknya jadwal TiR hari Minggu ini benar-benar sangat berkesan bagi saya. Tantangan banget lah pokoknya. Patut dicoba kalau lagi bertandang ke Surabaya! Terimakasih juga buat Simbah yang telah mengantarkan dan mengamankan saya saat menonton pertandingan bola kemarin. Dari postur aja udah keliatan serem sih, jadi kalo ada yang mau macem-macem juga pasti mikir dua kali nih kayaknya, hehe..

Dan yang paling penting, ternyata bonek tidak semenakutkan seperti anggapan saya sebelumnya. Beberapa kali saya ikut tertawa mendengar banyolan beberapa orang bonek dengan pedagang yang hilir mudik di tengah hujan. Intinya sih, bonek sebenarnya cuma supporter biasa yang fanatik terhadap Persebaya, selama fanatisme tidak merugikan sekitar ya saya mah tidak ada masalah, hehe.. Oh ya, saran saya: bawalah ponco saat menonton bola di musim hujan. Sedia ponco sebelum hujan. Yeah! []

Herajeng Gustiayu

Tentang Tilang dan Perpustakaan

C2O library, 7 Desember 2011

Wah, sejuta terimakasih saya ucapkan untuk Ayos, salah satu pencetus program Traveler in Residence (TiR) yang sedang saya ikuti saat ini. Ini adalah tilang pertama saya saat berada di Surabaya. Ngga tanggung-tanggung, dua sekaligus! Satu karena dianggap melanggar lampur merah, yang sampai saat ini tidak diterima oleh Ayos karena dia yakin lampu jalan masih kuning saat motornya melintas.

“Masih kuning, Pak!” teriak Ayos di depan wajah Pak Polisi.

“Sudah merah!” sanggah Pak Polisi ngga kalah sadis.

“Kuning!”

“Merah!!!”

“Kuning!! Saya tahu di jalan ini banyak polisi, ngga mungkin saya nerobos lampu merah! Kalau saya ditilang gara-gara ngga punya spion kanan, saya bisa terima, Pak!”

“Oh, kamu ngga punya spion juga??” Pak Polisi lantas melirik motor Ayos dengan tatapan lapar. “Oke, kalau begitu kamu saya tilang dua kali!”

Hm. Argumen Ayos tampaknya agak bersifat bunuh diri ya. Kebo, motor Ayos yang berwarna hitam ini memang cacat fisik tapi kesetiaannya tak dapat diragukan, ia kerap menemani Ayos di kala susah dan senang. Termasuk menjelang sidang tilang tanggal 16 besok. Well, good luck for you both…

Setelah mengurus surat tilang sambil agak menggerutu, kami pun segera bergegas ke c2o library di Jalan Dr. Cipto 20, yang juga turut bekerjasama dengan Hifatlobrain dalam menggarap program TiR. c2o library ini sendiri adalah sebuah perpustakaan komunitas yang sangat menarik bagi saya, terutama karena saya suka buku, hobi yang sempat agak terabaikan karena akhir-akhir ini saya lebih akrab dengan internet. Kalau di Surabaya ada c2o, Bandung punya Reading Lights, Jakarta kira-kira punya perpustakaan sejenis ini tidak ya?

Di pojok belakang perpustakaan c2o ini saya menemukan buku The Graveyard Book karangan Neil Gaiman yang saya cari-cari. Koleksi buku Roald Dahl juga  cukup lengkap. Ya, saya memang penggemar buku anak-anak, terutama yang alur ceritanya kreatif dan tidak lazim.

Nyaman sekali berada di sini. Suasananya tenang, berada di dalam perumahan yang jarang dilewati kendaraan, banyak pepohonan, enak untuk menghabiskan waktu sambil berkonsentrasi membaca. Tempat favorit saya untuk membaca adalah duduk di teras luar, asal cuaca sedang cerah. Mbak Yuli yang setia menjaga perpustakaan ini  juga siap untuk ditanya-tanya tentang buku dan film yang tersedia di dalam c2o library. Kalau tiba-tiba haus, c2o menyediakan beragam minuman dingin atau seduhan teh dengan berbagai rasa.

Yang bikin saya penasaran sih, kata Mbak Yuli, di depan c2o ini sering lewat penjual Semanggi. Semanggi? Yap, makanan khas Surabaya yang berbahan dasar daun semanggi, jelas Ayos kepada saya. Bentuknya seperti apa juga saya belum tahu. Baiklah, Semanggi resmi saya catat sebagai salah satu kuliner yang harus saya coba saat berada di Surabaya. []

Herajeng Gustiayu