Stay Kampong!

Rendy Hendrawan, partisipan program Traveler in Residence 2013

Rendy Hendrawan, partisipan program Traveler in Residence 2013

Barangkali, mengenal diri sendiri itu jauh lebih rumit daripada mengenal alam sekitar.

Dalam novel masyhur The Alchemist, Paulo Coelho menceritakan sebuah kisah tentang perjalanan yang dilakukan oleh Santiago, seorang bocah yang tinggal di Andalusia. Setelah mendapatkan wejangan dari seorang Alkemi, Santiago bertekad untuk mengembara mengikuti kata hatinya. Tapi meski sudah berkelana ke negeri-negeri jauh, ternyata Santiago tidak menemukan apa yang dicari. Makin ironis, karena pusaka yang diburu selama ini justru berada di kampungnya sendiri.

Bisa jadi pengembaraan Santiago adalah pengembaraan kita juga. Karena sibuk melakukan pelancongan ke berbagai penjuru dunia, akhirnya kita alpa untuk mengenal kota sendiri.

Setelah bertahun-tahun hidup, memang pada akhirnya kebiasaan mengambil alih fungsi kepekaan. Kita mulai terbiasa dengan rutinitas dan segala sesuatu yang rutin menghilangkan kejutan. Kota tempat tinggal menjadi kehilangan daya tarik justru karena kita hidup di dalamnya. Manhattan adalah sesuatu yang biasa bagi New Yorker, tapi luar biasa bagi anak muda Magetan. Tokyo adalah mimpi basah bagi para penggemar Maria Ozawa, tapi merupakan kota depresif bagi ratusan penduduknya yang rela terjun di jalur kereta bawah tanah. Istanbul merupakan kota yang sangat anggun bagi kebanyakan turis, tapi tidak bagi Orhan Pamuk. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari pekarangan sendiri.

Saya menyebut gejala ini sebagai ilusi destinasi. Karena faktanya masih ada banyak tempat menarik di sekitar tempat tinggal sendiri yang tidak habis dijelajahi. Tapi itu tergantung pada kemampuan seseorang dalam menangkap impresi sebuah tempat. Dan dalam kasus ini, kepekaan itu bisa diasah dengan kebiasaan. Ya, kebiasaan untuk melakukan eksplorasi di kota sendiri! Seorang teman menyebut tipe traveling seperti ini sebagai “jalan-jalan sepelemparan batu”.

Selaras dengan keyakinan tersebut, kami akhirnya melanjutkan program Traveler in Residence yang sempat tertunda tahun kemarin. Kali ini kami tidak lagi mengundang partisipan dari luar kota justru karena kami ingin mendapat perspektif baru dari traveler asli Surabaya. Apakah ia sudah mengenal tanah lahirnya? Bagaimana ia memandang dan mengekplorasi kotanya sendiri?

Maka dari itu kami mengajak Rendy Hendrawan sebagai peserta. Pria berambut Jimi Hendrix ini merupakan sarjana arsitektur yang sudah malang melintang di kota-kota besar dunia. Rendy memang sosok anak muda yang haus akan pengalaman. Ia pun melakoni penziarahan arsitektur pada tempat-tempat yang menjadi landmark dunia. Di depan bangunan-bangunan masyhur ini dahaga Rendy terpuaskan, barangkali sambil diam-diam melakukan vandalisme kuno “I-was-here” di sudut-sudut yang tak mencolok perhatian.

Tapi Rendy bukanlah pelancong kampungan. Ia tidak perlu mencorat-coret untuk meninggalkan jejak dan menemukan alternatif lebih menarik yang ditawarkan gawai digital. Dengan bantuan internet, kisahnya perjalanannya lebih mudah disebar dan bersifat real time, tak perlu takut apalagi sembunyi-sembunyi.  Jejak penziarahan arsitektur Rendy bisa ditemui di akun Instagramnya.

Bagi kami Rendy Hendrawan merupakan manifestasi yang tepat dari seorang Santiago. Ia melancong ke berbagai kota besar dunia tapi belum pernah blusukan ke kampung-kampung di Surabaya. “Wuih ternyata ada kampung sebagus ini ya di Surabaya,” begitu ujarnya saat kami ajak jejalan di Kampung Plampitan beberapa hari yang lalu.

Tidak, Rendy tidak perlu merasa berdosa. Itu mengapa kami tidak perlu memberikan hukuman. Justru yang kami lakukan saat menggandeng Rendy dalam program ini adalah menawarkan tantangan buat dia. Apakah dia sanggup hidup dan melebur selama sebulan di Kampung Keputran? Selama sebulan residensi ini diharapkan banyak perspektif baru yang bisa didapat oleh Rendy. Kami meminta dia untuk melakukan pemetaan dan mendokumentasikan folklore lokal serta hal asik lainnya yang ada di Kampung Keputran.

Rendy akan memotret dan menyebar hasil jelajahnya melalui Instagram, sebuah media yang betul-betul dikuasainya.

Konsep susur kampung ini kami dapatkan setelah melakukan curah pendapat dengan MadCahyo, salah satu peneliti ruang kota di Surabaya. Penelitian tentang kampung-kampung kota sendiri sudah pernah MadCahyo lakukan meski masih dalam tahap permukaan. Program Traveler in Residence tahun ini diharapkan bisa menjadi perpanjangan penelitian tersebut. Sehingga bisa mendapatkan gambaran kehidupan kampung kota yang lebih detail.

Semoga Rendy bisa menikmati masa residensinya!

Salam,

Lukman Simbah

Kepala Program Traveler in Residence 2013

Advertisements

8 responses to “Stay Kampong!”

  1. nyonyasepatu says :

    Ditunggu cerita2nya

  2. MasCojack says :

    tak tunggu critane sam… 😀

  3. mehdia says :

    Waini! Traveler yang bakal bahas urban architecture. Blusukan ke kampung memang hal yang menarik. Kampung manapun itu. Campur aduk rasanya, kayak es teler. Isinya macem-macem dengan rasa yang beragam pula. Sukses ya! Jadi pengen ikut blusukan 😀

  4. titiw says :

    Ilusi destinasi. Menarik. Serta mendorong. Ditunggu updatenya. 🙂

  5. DianRuzz says :

    Be traveler at home … Menarik 😀
    jadi pengen blusukan di kota sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: