Archive | January 2012

Selesai Sudah!

Photo (c) Giri Prasetyo

Ngga terasa sih ya program Traveler in Residence periode pertama ini telah berakhir masa kontraknya. Tepat sebulan sejak kedatangan pertama Mbak Ajeng di Stasiun Pasar Turi Surabaya pada 5 Desember 2011 hingga berujung sekarang, 5 Januari 2012. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari program singkat ini. Banyak juga yang perlu dikoreksi di dalamnya. Sebulan ternyata tak cukup untuk menghabiskan Surabaya dalam satu lahapan. Beberapa kendala seperti hujan yang turun teratur mampu mengubah satu dua itinerary yang disusun rapi sebelumnya.

Sebenarnya program ini sudah dibantu oleh beberapa pihak baik dari Hifatlobrain Travel Insititute sendiri maupun c2o Library, beserta teman-teman main kami di Surabaya. Tapi secara pribadi, saya sungkan meminta bantuan mereka untuk mengantar Ajeng berkeliling Surabaya. Hahaha! Terlebih ini hanyalah proyek pro bono. Makanya, saya sangat menghargai dan berterima kasih banyak pada teman-teman yang telah berinisiatif langsung menemani Ajeng ke beberapa destinasi di Surabaya. Saya pikir dengan mendapatkan guide yang berbeda, si traveler juga akan menerima pengalaman dan prespektif yang beragam pula tentang Surabaya.

Saya dan keluarga besar Hifatlobrain Travel Insitute, berterima kasih sekali pada kawan-kawan c2o Library, perpustakaan ciamik yang selalu membukakan pintu demi keberlangsungan program ini. Untuk Kathleen Azali, Anitha Silvia, Andriew Budiman, Ari Kurniawan, Mbak Yuli, dan pihak lain yang mungkin terlewat. Maaf kalau banyak merepotkan yaaa… Semoga bisa terus bekerja sama nantinya.

Buat Mbak Herajeng Gustiayu, maturnuwun sanget, sudah bersedia menjadi kelinci bagi proyek eksperimental ini. Mohon maaf kalau ada pelayanan yang kurang selama di Surabaya. Hahaha… Semoga ngga kapok kerja bareng lagi. Masih ada pameran yang menanti di bulan Maret yaaa, jangan sok lupa! :p

Terima kasih juga pada kalian yang masih mau membaca dan mengikuti update program Traveler in Residence ini. Segala kritik dan saran yang membangun maupun merubuhkan akan kami kunyah se-crunchy mungkin 🙂

Well, program Traveler in Residence belum benar-benar mencapai finish line. Itu sebabnya di awal paragraf tadi saya bilang ini sebagai Traveler in Residence periode pertama. Saya, kami, Hifatlobrain Travel Institute masih ingin melakukan berbagai macam residensi di tahun 2012 ataupun tahun mendatang. Dengan berbagai perbaikan dan pengembangan program-program kreatif lainnya. Bisa di Surabaya ataupun di kota lainnya. Monggo lho, kalau mau urun ide, kami akan sangat senang sekali. Ya, karena kami memang sekumpulan monster pelahap ide.

Oke deh, segitu aja uneg-uneg saya setelah mentraktir bubur ayam terakhir sebelum penerbangan Mbak Ajeng ke Jakarta siang ini. Mohon maaf lahir batin ya semuanya. Sekali lagi, kalau ada yang berminat kerja bareng dalam proyek residensi berikutnya, let me know! I want you lah pokokmen!

Kepala Program Traveler in Residence

Dwi Putri Ratnasari

note: PR kami selanjutnya adalah menyusun dummy book sebagai output dari Traveler in Residence ini dan menyiapkan pameran untuk bulan Maret 2012. Aye!

On C2O Newsletter

Potongan review Traveler In Residence di C2O Newsletter.

Banner cantik pembuka artikel buatan Kat.

Terimakasih untuk Kathleen Azali yang sudah mereview program Traveler In Residence ini di newsletter bulanan c2o Library yang ciamik itu. Kepada Kat juga kami haturkan terimakasih untuk desain banner yang cantik terpampang di website c2o.

Silahkan dapatkan newsletter pembuka tahun 2012 dari c2o Library di sini.

Rumah Abu Han Sketch

Rumah Abu Han, Jalan Karet 72 Surabaya

Ary Hartanto

Ary Hartanto adalah seorang arsitek gaul sekaligus moderator Forum National Geographic Indonesia di kala senggang. Kebetulan ia sedang mampir di Surabaya untuk menghabiskan jatah libur akhir tahun. Jadilah ia menjadi obyek untuk meramaikan kegiatan Traveler In Residence dengan cara sumbang karya. Ary, mengagumi kawasan kota tua Surabaya. Selama di Surabaya, Ary melakukan heritage trip dengan menyusuri kawasan Surabaya utara yang penuh dengan gedung peninggalan kolonial, kawasan pecinan, dan Kampung Ampel yang eksotis.

Rumah Abu Han, salah satu bangunan klasik di pecinan, segera menjadi obyek yang ia gambar. Kemampuan sketsa arsitekturalnya ia tumpahkan dengan metode quick sketching. Ia menarik garis bantu dengan pensil lantas menumpuknya dengan tinta Boxy yang lebih tegas. Simpel namun memiliki perspektif arsitektur yang begitu kentara.

“Sebetulnya aku lebih tertarik dengan lorong yang ada di samping Rumah Abu Han. Sebuah gang tua yang penuh lumut memancing rasa ingin tahuku; ada apa di ujung lorong sana? Karena biasanya kawasan pecinan dibangun dengan sistem berlapis,” kata Ary yang juga menggemari fotografi ini.

Ayos Purwoaji

Pegupon Study

Pegupon "Sume" di Stren Kali Jagir, Wonokromo

Sebagaimana diketahui bahwa program Traveler In Residence ini bersifat multirespon. Jadi siapapun yang ingin menggambar tentang Surabaya, silahkan di-submit untuk kami tampilkan dalam blog ini. Saya juga ingin turut andil. Sebagai seorang mahasiswa Desain Produk semester akhir (yang belum juga berakhir), Saya mencoba memanaskan suasana dengan turut menyumbang sketsa. Meskipun seganteng Primus Yustisio, namun kualitas sketsa saya berkualitas “ala kadar” saja. Tapi biarlah, yang penting semangatnya bukan?

Menurut Profesor Josef Prijotomo, guru besar Arsitektur ITS, pegupon (rumah burung dara yang terbuat dari kayu dan triplek) adalah bentuk arsitektur asli Surabaya. Entah benar atau tidak. Tapi memang fenomena pegupon ini memang masif dan bisa ditemui di mana pun di Surabaya.

Entah bagaimana awalnya desain pegupon sampai di Ujung Galuh (nama Surabaya pada zaman Majapahit). Bentuknya hampir seragam; terletak di atas wuwungan rumah atau di muka halaman, berbentuk seperti miniatur rumah dengan atau tanpa tingkat, dan biasanya berwarna ngejreng.

Saat berjalan-jalan di sepenjang stren Kali Jagir, saya banyak menemukan pegupon yang unik. Ada yang berwarna pink atau kuning menyala. Ada yang ditempeli stiker berbagai rupa. Ada pula yang berwarna biru dengan tulisan logo band Anthrax.

Satu yang menarik perhatian saya, yaitu sebuah pegupon bertuliskan SUME yang menjorok di bibir sungai. Saya nggak tahu apa arti ‘sume’, tapi kata Tinta, artinya adalah,”Tersenyum tapi nggak senyum…” Apakah Anda bisa memvisualisasikannya? Sume adalah pegupon bertipe mewah karena bertingkat dua. Saya mengira ada sekitar delapan ekor burung dara yang bisa tinggal dan menjalin kasih di dalamnya. Saya senang melihat beberapa burung dara bersliweran keluar masuk sume.

Berkat sume, saya jadi ingin mendokumentasikan berbagai bentuk pegupon di Surabaya yang tidak jarang berbentuk unik!

Ayos Purwoaji

Ajeng’s Workshop

Ajeng menggambar dilihat oleh Tinta. Sedangkan Putri sibuk mencoba menggores kuas mengikuti gaya Ajeng.

Selama beberapa hari ini Ajeng menggambar dengan mode kejar setoran. Jadilah ruang meeting perpustakaan c2o ia jadikan workshop. Ajeng merajai ruang ini. Andriew dan Kat terdesak! Hahaha. Ajeng memanfaatkan meja kaca di ruang meeting sebagai alas, lengkap dengan lampu tracing milik Kat yang dipinjamnya.

Melihat Ajeng asyik menggambar tampak enak juga. Sepertinya gampang saja menggoreskan kuas dengan tetesan cat air warna-warni itu di atas kertas. Srat sret srat sret jadilah sebuah gambar gedung yang manis dan artsy. Woho Putri pun jadi kepengen. “Mbak aku ajarin gambar pake cat air dong…” kata Putri merengek pada Ajeng. Menurut Ajeng, menggambar dengan cat air itu bisa jadi sebuah terapi stress yang menarik. Batin jadi tenang, pikiran jadi riang.

Akhirnya Putri mengambil beberapa sketsa awal milik Ajeng yang gagal, lalu disapunya dengan warna. Kualitas lukisan Putri janganlah dibandingkan, tapi ia cukup senang melakukannya. Segurat senyum berkembang di wajah Putri yang bulat. Tampaknya terapi stressnya bekerja dengan baik. Selamat tahun baru 2012 kawan 🙂