Menuju Kediri

25 Desember 2011
Jam 3 sore, saya dan Ajeng cabut ke Stasiun Gubeng. Kereta telat datang, jam 4 baru kami berangkat. Ajeng belum pernah naik kereta ekonomi, jadi saya menceritakan keunikan kereta ekonomi; mulai dari para penumpang yang guyub, banyaknya penjual makanan/minuman, banyak pengamen dan pengemis. Saya menyukai suasana kereta ekonomi, tingkah para penumpang yang membuat saya selalu terheran, namun ada satu yang mengganggu, seorang pemuda menyalakan mp3 mengunakan HP dengan mode speaker on, dia tidak menggunakan earphone, memamerkan koleksi lagunya yang sepertinya banyak beredar di televisi, kalo itu kejadian di jakarta saya pasti protes ke dia dan menyuruh dia menggunakan earphone, tapi ini di Surabaya (Jawa) dimana individualisme masih asing.

Nyampe Kertosono-Nganjuk, terjadi kehebohan, kereta tidak bisa lanjut ke Kediri karena ada kereta barang yang anjlok, jadi para penumpang KA Rapih Dhoho dioper dengan bis, haduh kayak kejadian beberapa tahun lalu saat saya ke Bandung dan diturunkan di Stasiun Leles karena jalur rel kereta api terendam air (banjir) lalu pihak kereta api menyediakan bis menuju Bandung. Pihak kereta api Stasiun Kertosono hanya menyediakan 2 bis, jadi banyak penumpang yang berdiri, saya dan Ajeng sempit-sempitan berbagi kursi, 2 kursi untuk 3 orang. Saya cukup panik, takut kemalaman sampai di Kediri, ternyata perjalanan cukup lancar dan tiba di Stasiun Kediri pukul 19.30 sesuai jadwal.

Oke beberapa kejutan sudah kami lalui dengan hati lapang, selanjutnya kami berjalan kaki menuju halte bis, kami akan naik Bis Puspa Indah jurusan Malang, lokasi venue berada di luar kota, arah Gumul. ternyata di depan halte adalah Kediri Town Square yang dibuka pada bulan Agustus kemarin, wah Kediri emang kota terbesar ketiga di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang. Ada banyak pusat perbelanjaan disini : Dhoho Mall, Kediri Mall (Sri Ratu), Ramayana dan Robinson, dan yang terbaru: Kediri Town Square. Saya tidak yakin masyarakat Kediri membutuhkan banyak mall! Dan tidak lama kemudian minibis Puspa Indah datang, kami beruntung karena ini adalah bis terakhir, saya pun minta ke supir untuk menurunkan kami di Gang Katang Ketoprak sesuai dengan petunjuk dari Ajeng Resista. Kami diturunkan di Gang Ketoprak, tapi saya bingung gak ada tulisan Gang Ketoprak, adanya Jalan Erlangga, tapi kemudian saya yakin berada di jalan yang tepat, segerombolan anak muda naik motor dengan bersepatu Vans, wah mereka pasti juga datang ke gig. Kami masuk ke gang dan menemukan venue “Katang Studio 35” dengan mudah! Cukup terkejut dengan kehadiran ladang jagung dan cabe disekitar venue, dan ramai sekali disana, saya pun mengirim SMS pada Ajeng Resista mengabarkan saya sudah tiba di venue!

Beberapa detik kemudian Ajeng Resista menyapa saya, saya gak tau wajah Ajeng Resista begitu juga sebaliknya, tapi sepertinya mudah menemukan saya karena hampir semua pengunjung adalah pria, yang perempuan hanya kami dan beberapa anggota rombongan tur. Kami pun langsung ngobrol banyak, ternyata Ajeng adalah mahasiswa semester 5 Universitas Negeri Malang jurusan Sastra Indonesia, dan rumah orangtuanya di Kecamatan Semen dekat dengan Gereja Poh Sarang. Kami bertukar cerita mengenai kawan-kawan sesama zine maker: Milla, Ika Pepi, Aldiman Sinaga. Saya juga sharing mengenai Project Indonesia Zine Mapping, di Jawa Timur baru terdeteksi Kota Surabaya, Jember, Malang, Blitar, dan Kediri. Ajeng juga mengenalkan pacarnya, namanya Helmi, dan ternyata Helmi yang mengorganisir tur Milisi Kecoa di Kediri, wah kejutan yang menyenangkan. Gig malam ini sangat ramai dengan venue yang oke, di areal Katang Studio juga ada warung dengan space yang luas dan tidak mengganggu masyarakat sekitar karena dikeliling ladang jagung dan cabe. Ruang pertunjukkan sebenernya adalah sebuah rental Playstation berukuran sekitar 5x4meter, tanpa jendela, hanya pintu sebagai sirkulasi udara, mereka menyewa ruang tersebut 50k per jam termasuk sewa alat, jadi termasuk murah, 4 jam hanya 200ribu, dan ini adalah venue satu-satunya di Kediri yang sering dipakai oleh mereka.

Saya pun masuk ke ruang pertunjukkan, buset seperti pertunjukkan HC/punk umumnya, band dengan crowd tanpa batas, moshpit terus menyala, saya mencari spot yang lumayan aman untuk mengambil gambar, tapi sangat susah mengambil gambar saat crowd menggila, sing along, diving, dan menari! Kepala saya pun beberapa kali terbentur tembok dan tubuh saling berbenturan dengan orang lain, yah iyalah saya berada di moshpit! saat itu Seized yang tampil, bandnya Helmi. Seized selesai, crowd pun berhamburan keluar ruangan, berusaha mengambil oksigen, karena di dalam ruang sangat panas dan minim oksigen, keringat menguasai tubuh para pengunjung termasuk saya, tapi saya sangat merasa senang, hati saya terobati karena semalam saya bermasalah dengan sebuah band punk Jakarta. Saya benar-benar menikmati pertunjukkan, anak-anak punk Kediri pun terlihat guyub dan menyenangkan. Ajeng Resista tidak masuk ke ruangan karena dia menjaga barang-barang rombongan tur, Ajeng pun hanya duduk di sebelah Ajeng Resista, tentu saja Ajeng tidak menikmati pertunjukkan, saya salah mengajak Ajeng, kesenangan saya malah menyengsarakannya. Ajeng marah ke saya, dia minta lain kali memberitahukan rencana perjalanan, dia tidak menyangka kami menjadi seperti kaum hippies, tidak ada kejelasan tempat menginap dan transportasi, menumpang sana-sini. Sepanjang malam, Ajeng memilih diam dan pasrah apapun keputusan saya.

Kotak donasi diedarkan, band-band yang tampil menyerahkan sejumlah uang ke Helmi untuk membayar venue dan alat, uang hasil donasi menjadi tambahan untuk menutup biaya produksi gig ini, saya terharu melihatnya, saya sangat setuju dengan gig kolektif, do it with your friends! Saya kembali masuk ruang pertunjukkan saat Speedy Gonzalez beraksi, crowd lanjut menggila, saya baru sadar lensa kamera berembun karena pengapnya udara, tidak bisa lanjut mengambil gambar, yang penting saya bisa menikmati pertunjukkan! Speedy Gonzalez menyelesaikan set mereka, crowd lalu berhamburan keluar ruangan, kembali menghirup dalam-dalam udara segar, haha bisa-bisa badan saya makin kurus karena keringat dengan mudah tercipta, sauna di dalam ruangan. Selanjutnya adalah penampilan puncak: Milisi Kecoa. Spanduk dengan logo Milisi Kecoa dipasang di tembok, para personel Milisi Kecoa: Dhani, menyiapkan alat dan sound. Saya mengambil gambar mereka saat persiapan karena akan sangat susah mengambil gambar saat mereka bermain.

Sembari Milisi Kecoa menyiapkan alat, mereka memutar mp3 lagu SKJ, beberapa orang melakukan gerakan-gerakan SKJ, haha jadi pendinginan karena sepanjang pertunjukkan kami kepanasan. Dan tidak lama Milisi Kecoa melontarkan track pertama, saya tidak tahu judulnya, saya tidak punya mp3 atau CD mereka, pastinya crowd menyambut dengan gembira, menyanyi bersama, dorong mendorong, diving, crowd tetap semangat sampai track terakhir, saya dan crowd sangat puas, meskipun sang drummer bilang mereka tidak bermain maksimal karena masih terasa lelah akibat perjalanan yang panjang dengan beberapa hambatan dari Jember. Salah satu anggota rombongan tur bilang kalo pertunjukkan Milisi Kecoa malam ini adalah yang tergila diantara kota-kota yang dilalui tur sejauh ini. Saya pun menganggap gig malam ini adalah salah satu gig terbaik yang pernah saya nikmati seumur hidup! List performer yang memukau, venue yang ajaib, dan pihak penyelenggara yang mantap!

Selesai pertunjukkan, kami bersantai menghirup oksigen dan mengeringkan keringat, Helmi dan kawan-kawan membereskan ruang pertunjukkan, Ajeng Resista menawarkan kami menginap bersama rombongan, saya langsung mengiyakan tawarannya, saya memang beruntung hari ini, kesialan langsung sirna. Sebenernya Ajeng Resista pengen sekali mengajak kami menginap di rumahnya di Poh Sarang, rumahnya dekat dengan Gereja Poh Sarang, tapi Ajeng dalam posisi sedang kabur dari rumah, dia bilang ke orangtuanya masih di Malang, jadi orangtuanya tidak tahu kalo Ajeng di Kediri hari ini, dia dan Helmi akan ikut rombongan Milisi Kecoa ke Solo besok, kalo Ajeng pulang ke rumah dia tidak akan dapat ijin ke Solo.

Lalu kami menuju rumah salah satu personel Seized yang berada di dekat venue, anak-anak parkir mobil dan motor disana, sekalian istirahat bentar. 10 menit kemudian kami menuju penginapan yang merupakan rumah seorang  kawan Helmi bernama Andre di Jalan Kilisuci. Andre masih duduk di bangku SMA, sesuai dengan tampangnya yang cute. Saya membonceng motor kawannya Helmi, 2 orang dari Kota Malang yang sengaja datang untuk melihat gig, jadi kami cenglu (bonceng telu—bonceng bertiga), payahnya saya lupa namanya, mereka kenal dengan Zen dan Reza, kami jadi langsung akrab ngobrol. Ajeng juga cenglu sama Ajeng Resista dan Helmi, aduh saya terharu dengan kebaikan mereka, padahal kami baru saling mengenal. Kami mampir ke warung pecel tumpang di depan SMP 3, mereka kelaparan, Ajeng pun ikut membeli nasi pecel, saya kurang berminat makan.

Setelah semua perut kenyang, kami lanjut ke penginapan, disana ada mobil Fiat dengan gantungan kepala Santa Claus di kaca mobil. Rumah keluarga Andre adalah ruko, lantai dasar adalah toko handphone, Andre telah menyiapkan 2 kamar dan 1 ruang keluarga sebagai tempat tidur kami, sedangkan Andre dan teman-temannya tidur di ruang TV lantai dasar. Saya mengucapkan sampai jumpa ke Ajeng Resista, sangat berterimakasih atas bantuan dia dan Helmi, mereka pulang, saya dan Ajeng ke atas untuk segera tidur, kami menempati salah satu kamar bersama para personel Harda Tider dari Swedia, kami hanya saling tersenyum tapi tidak saling mengenal, Ajeng langsung tertidur, saya belum bisa tidur, saya membaca buku “Garis Batas” karangan Agustinus Wibowo. Bacaan yang tepat saat melakukan perjalanan sebagai seorang musafir, keberuntungan dan kesialan datang silih berganti dan tidak terduga, saya memang suka kejutan! Di ruang tengah, beberapa anggota tur merayakan Natal dengan alkohol sambil menyanyikan lagu-lagu rakyat Swedia, saya pun tertidur.

26 Desember 2011
Kami bangun sebelum alarm berbunyi, jam 6 pagi, sinar matahari masuk ke kamar, kami cukup tidur nyenyak semalam, saya langsung mandi, segar sekali setelah mandi, gantian Ajeng yang mandi, semua anggota rombongan tur masih tertidur, saya ke beranda, dan wah pemandangan yang indah, tampak Gunung Klotok yang hijau karena sekarang musim hujan, udara pun cukup sejuk. Kami sudah siap cabut menuju Stasiun Kediri, saya putuskan kami tidak jadi ke Gereja Poh Sarang, Ajeng terlihat tidak bersemangat untuk melakukan perjalanan, masih marah dengan tindakan saya. Andre masih tidur, akhirnya mamanya yang membukakan pintu, kami pamit dan mengucapkan terimakasih sudah boleh menginap.

Kami berjalan kaki melewati Jalan Kilisuci, Jalan Joyoboyo, Jalan Hayam Wuruk dan belok kiri masuk gang kecil yang bertuliskan “Stasiun Kediri 200 meter”. Jam 8 pagi kami sampai di stasiun kediri, kami mendapatkan tiket KA Rapih Dhoho pukul 11.55, jalur rel kereta yang anjlok sudah diperbaiki, jadi kami bisa pulang ke surabaya naik kereta, malas sekali jika naik bis karena lebih lama dan lebih mahal. Kami istirahat dulu di stasiun sambil sarapan roti keju, lalu saya memilih tidur dan bangun jam setengah 10, lumayan banget karena perjalanan ke surabaya cukup panjang. Kami berjalan kaki keliling pusat kota, mulai dari Jalan Dhoho lalu ke Jalan Yos Sudarso, berkunjung ke Klenteng Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, di sana sedang dibangun beberapa bagian di dalam klenteng, klenteng yang indah tepat berada di samping Sungai Brantas.

Lanjut berjalan kaki ke Jalan Sudirman, menuju alun-alun, istirahat bentar di alun-alun melihat anak-anak kecil asjik memanjat pohon, lalu kami ke Giant Hypermart di Dhoho Plaza, tepat di sebelah alun-alun, Ajeng membeli 2 botol air mineral dan snack, lalu kami kembali ke stasiun, tidak jadi mengajak Ajeng ke jembatan Sungai Brantas yang sudah di depan mata, Ajeng masih terlihat marah, saya berharap menemukan penjual lontong tahu atau kupat tahu atau masakan dengan tahu, Kediri kan kota tahu, tapi kami tidak menemukannya. Kereta Rapih Dhoho tujuan Surabaya baru datang jam satu siang, telat sejam, kami beruntung mendapatkan tempat duduk, karena banyak juga yang berdiri. Sampai di Jombang hujan deras, karena kami duduk di dekat jendela yang kacanya sudah raib, saya pun kehujanan, yah ginilah nasib naik kereta ekonomi. Nyampe Surabaya pun hujan, kami sudah sedia payung, sebelum pulang ke kost saya menemani Ajeng makan rawon, dia kelaparan, saya hanya makan pisang, saya sudah berniat membuat teh susu di kost. []

Anitha Silvia

Advertisements

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: