Menjadi Musafir

ImageHerajeng Gustiayu di depan sebuah rumah kuno di Kampung Ampel

22 Desember 2011

Saya terbangun sebelum alarm berbunyi, terbangun oleh suara aktivitas keluarga induk semang, alarm berbunyi jam 7, Ajeng pun bangun, tapi kami cukup malas untuk memulai hari. Saya bikin sarapan: sandwich ganja, dan Ajeng sukak! Kami baru cabut dari kost jam 9 pagi, yaw tur jalan kaki dimulai! Salah satu itinerary dalam program Traveler in Residence adalah sesi jalan kaki bersama saya! Rute jalan kaki hari ini adalah Stasiun Gubeng Lama – Pasar Gembong – Klenteng Boen Bio – Hotel Ganefo – Kampung Ampel – dan berakhir di Museum Kesehatan. Saya tahu kami akan berjalan jauh, tapi saya sengaja tidak memberitahukan jarak ke Ajeng. Dengan semangat, kami berjalan menuju Stasiun Gubeng Lama, Ajeng sebelumnya sudah berkunjung ke Stasiun Gubeng tapi dia masuk lewat Stasiun Gubeng Baru. Bagi saya, Stasiun Gubeng Lama lebih indah daripada Stasiun Gubeng Baru karena bangunan kolonial yang terawat.

Lanjut berjalan kaki melewati THR menuju Jalan Gembong. Di depan sebuah ruko, kami menemukan minuman dalam kendi yang disediakan untuk para musafir, ini beberapa kali saya ditemukan di pemukiman penduduk, sebuah kearifan lokal dimana masyarakat Jawa menyediakan minuman dalam kendi untuk para musafir—termasuk pengemis, penjual keliling, pemulung, dan kebetulan kami hari ini adalah musafir, yeah! Saya pun langsung meminum air kendi yang rasanya sejuk, Ajeng agak ragu untuk minum, saya cukup memaksa dia untuk meminum air kendi itu, hehehe benar-benar menarik!

Kami pun tiba di Pasar Gembong yang beroperasional di sepanjang Jalan Gembong, menunjukkan spot-spot favorit saya dengan komposisi barang-barang bekas yang aduhai, beberapa penjual mengenali saya, karena saya cukup sering berkunjung ke gembong. Kami juga mampir ke stand-stand baju bekas, menemukan blouse yang aneh, blus seperti baju renang, hehehe cukup konyol. Lanjut ke langganan saya yang menjual kaset dan plat, tidak membeli apa-apa kami hanya berfoto-foto ria. Lanjut berjalan menuju Jalan Kapasan, mampir ke penjual Serabi Notosuman asli Solo, sekalian istirahat, harga serabi 2000 perak dan rasanya nikmat, sayang tidak panas, karena kalo panas pastilah tambah nikmat, santannya meleleh, sangat saya rekomendasikan!

Lanjut berjalan menelusuri Jalan Kapasan yang penuh dengan toko bahan kaos, mampir sebentar ke klinik kesehatan di sebuah rumah kolonial dengan pengunjung beretnis Tionghoa, yaw jalan kapasan masuk dalam kawasan Kampung Cina alias Pecinan Surabaya. Tujuan selanjutnya adalah Klenteng Boen Bio, sebuah klenteng Khonghucu di Jalan Kapasan 131, kami beruntung karena kami disambut dengan ramah oleh Pak Gunadi—karyawan klenteng. Beliau menjelaskan bahwa Khonghucu adalah nama orang yang memproduksi sebuah ajaran yang berkembang menjadi sebuah aliran kepercayaan, hahaha kami baru tahu kalo Khonghucu adalah nama orang. Di dalam klenteng ada patung dan lukisan Khonghucu, juga ada foto Gus Dur berukuran 20R. Gus Dur sangat dihormati karena dia lah Presiden Indonesia yang menjadikan Khonghucu sebagai aliran kepercayaan yang “diakui” oleh negara. Klenteng ini juga sangat ramah karena dipakai oleh masyarakat sebagai jalan pintas masuk ke Kampung Kapasan Dalam yang berada di belakang klenteng, setelah puas berfoto-foto, kami pamit ke Pak Gunadi dan lanjut berjalan kaki menuju Kampung Ampel.

Masih di Jalan Kapasari, kami melewati Hotel Ganefo, dengan semangat kami masuk ke lingkungan hotel dan wow hotel dengan bangunan kolonial yang terawat, Ajeng sempat mengambil foto bagian depan hotel dengan kamera pocketnya, tapi kemudian sang petugas kebersihan meminta kami untuk meminta ijin ke pihak hotel, kami melangkah masuk ke hotel, dan sang resepsionis melarang kami mengambil gambar tapi mempersilahkan kami untuk berkeliling hotel, yay! Kami terkagum dengan interior plus properti lawas yang digunakan pihak hotel, meskipun tampak seperti sanitarium, tapi hotel ini tetap memukau, ruang kamar double bed seharga 80.000 per malam tampak steril dengan 2 ranjang besi bersprei kain putih dan wastafel menggantung di dinding. Di beranda, jendela kayu super lebar sangat nyaman dengan bangku plus meja panjang menampilkan pemandangan pohon beringin, wah ini spot yang oke banget buat meeting! kami lanjut berkeliling ke bangunan di sayap kiri, banyak kamar dengan properti yang sama di bangunan utama. Lanjut ke bangunan sayap kanan—bangunan lebih baru tahun 70-an—bergaya art deco, bangunan 2 lantai dengan properti bergaya vintage juga. Hotel Ganefo adalah kejutan yang paling menarik di trip kali ini.

Saya memilih jalan masuk utama masjid Ampel, saya biasanya lewat Gang Ampel Suci, akhirnya saya bisa masuk ke situs Sunan Ampel! Saya sudah memakai kostum yang tepat; celana panjang dan baju lengan panjang, juga sudah bawa kerudung yang dipinjamkan oleh induk semang, Ajeng pun memakai jaket dan menjadikan sarung bali sebagai kerudung, kami pun siap masuk! Kami langsung menuju makam Sunan Ampel, seperti biasanya ramai peziarah, dengan santai kami mengamati mereka yang sedang berdoa di depan makam, selanjutnya kami masuk ke masjid yang merupakan peninggalan Sunan Ampel yang bernama lengkap Raden Ahmad Rahmatullah. Masjid yang indah dengan kerangka atap berjenjang, menarik!

Kami istirahat sejenak di dalam masjid, lalu kembali berjalan menelusuri Gang Ampel Suci yang terkenal dengan banyak stand yang menjual barang-barang Islami, oleh-oleh haji, parfum, dan makanan khas arab. Kami pun menyusuri gang-gang kecil di Kampung Arab, mengagumi rumah-rumah berlanggam kolonial yang masih terawat, dan kami menemukan perempuan Madura yang menjual bubur Madura, istirahat lagi sambil menikmati bubur Madura seharga 2500 rupiah super-enak dan tidak eneg meskipun sangat manis. Bubur Madura seperti bubur sumsum tapi banyak variasinya dan jauh lebih lezat. Kembali berjalan melewati Jalan Sasak yang menarik karena penuh dengan toko kitab, dan mampir ke Hotel Kemadjoean yang berdiri sejak tahun 1928, terletak di Jalan KH Mas Mansyur, kami masuk dan mengecek harga kamar, double bed 80.000, single bed 50.000, tapi kami tidak bisa mengecek kondisi kamar.

Lanjut menuju Jalan Panggung—jalan favorit saya, jalan yang penuh dengan rumah kolonial bertingkat dimana lantai dasar dipakai sebagai toko, lantai atas untuk tempat tinggal, dan di tengah jalan ada Pasar Pabean—pasar ikan. Pas kami lewat, Pasar Pabean sangat ramai karena berbagai hasil laut baru datang! Kepiting ikut berjalan kaki bersama kami menembus para buruh pasar. Sampai di ujung jalan panggung kami menuju jembatan merah dan mengintip Taman Jayengrono yang sedang dalam pembangunan. Berjalan kaki di pedestrian yang lebar dan nyaman sepanjang Jalan Rajawali, menyebrang di depan supermarket Giant, dan menelusuri jalan-jalan yang belum pernah saya lewati, saya cukup lelah berjalan, Ajeng apalagi, hahaha kami sudah berjalan kaki selama hampir 5 jam seharian ini. Akhirnya kami tiba di Jalan Indrapura, beristirahat di sebuah taman, hahaha kami kelelahan. Museum Kesehatan sudah didepan mata, kami tinggal menyebrang dan tiba disana.

Ini kedua kalinya saya berkunjung ke Museum Kesehatan, sebuah museum yang menarik, dikelola pemerintah, tiket masuk 1.500 rupiah, terdiri dari dua bagian: kesehatan ilmiah dan kesehatan budaya. Di bagian pertama kami menikmati dokumentasi surat-surat yang berkaitan dengan perkembangan dunia medis di Indonesia, lalu peralatan yang dipakai, barang-barang vintage! Bagian kedua adalah koleksi barang-barang yang berhubungan dengan pengobatan alternatif, termasuk benda klenik macam santet dan jaelangkung, gak heran masyarakat lokal menyebut museum kesehatan sebagai museum santet. Yaw list destinasi hari ini sudah tercapai semua, kami pun berjalan pulang menuju lampu merah Jalan Pahlawan.

Wah ternyata kami melihat dari kejauhan Gereja Kepanjen, saya pun mengajak Ajeng mampir karena sepertinya kami tidak sempat ikut misa Natal. Gereja Kepanjen bernama asli Gereja Kesalpa, disebut Kepanjen karena berada di Jalan Kepanjen. Gereja Kelsapa adalah gereja katolik beraliran kelahiran santa perawan Maria, didirikan tahun 1899, adalah nominator UNESCO Asia-Pasific Heritage Awards for Culture Heritage Conservation 2009. Gereja yang memukau dengan dua buah menara dengan salib dan tetanda mata angin menjadi puncaknya. kami mengintip ke dalam gereja, sedang ada rehersal misa malam natal. Lanjut berjalan ke belakang gereja dimana terdapat Gua Maria dengan stasi-stasi, dan di sana bertemu Pandu—teman UKM Katolik zaman kuliah. Ok, tur jalan kaki pun berakhir di Gereja Kepanjen, kami segera naik bis kota menuju c2o Library. Tur jalan kaki ini sekaligus rekor jalan kaki terlama saya dan Ajeng tentunya, kami berjalan kaki selama 6 jam berkeliling Surabaya!

Kami pun langsung beristirahat di c2o sambil menunggu Kat, jam 4 sore kami bertiga menuju Unair, Kat kuliah, saya dan Ajeng keliling kampus, sedang ada festival budaya hari ini. Mampir ke fotokopi Pink, menggandakan poster gigs Kendali Sendiri. lanjut ke GSG, melihat bazaar dan mencari tempat yang sepi. Tapi kayaknya sejak dulu di Unair Kampus B memang tidak ada spot yang sepi, crowded! Saya mengusulkan untuk ke perpustakaan berharap menemukan tempat baca yang tenang, dan pas nyampe lobby ternyata lebih rame daripada GSG, padahal ada tulisan: harap tenang. Yah kami bertahan di sana sampai jam 6 sore, Andhika mengabarkan dia sudah tiba di Auditorium Unair, yah itu berarti dia presentasi karya di Unair Kampus C, batal deh ketemu andhika, padahal dia juga pengen ketemu Phleg.

Kami ke GSG menghadiri malam puncak festival budaya, ada pertunjukkan wayang suket tapi pasti maleman, setelah menyaksikan pertunjukkan musik oleh BSO Musik FIB, kami memutuskan kembali ke kost saja. Saya mandi karena badan sangat bau, Ajeng memilih beristirahat sejenak, kemudian Putri menjemput Ajeng, Putri pun kaget kami berjalan kaki selama 6 jam. Janjian dengan Kungfu Ganja bertemu jam 6 pagi di penginapan, mereka batal naik kereta api karena kehabisan tiket, mereka naik travel. Sepertinya jam 9 malam saya sudah terlelap, hari ini puas sekali berjalan kaki!

Anitha Silvia

Advertisements

Tags: , , , ,

2 responses to “Menjadi Musafir”

  1. izul says :

    kalau ke solo kamu jg tak ajak cities track hiking ya :D, bnyak spot-spot yg indah buat dilalui sang musafir… wah note diatas sangat menginspirasi, krn selama ini saya jg ga kepikiran kalau traveling ala jalan kaki pst sangat menyenangkan.. mmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: