Busy Sunday

Tugu Pahlawan, Minggu pagi 11 Desember 2011

“Eh, aku mau itu, Mbak!” seru Putri sambil menunjuk dorongan pedagang kaki lima berisi potongan mangga dingin dan segar. Saat itu kami masih berada di atas sepeda motor Putri yang bernama Bonita, sedang berusaha mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk Monumen Tugu Pahlawan. Cuaca Minggu pagi itu masih tampak bersahabat dengan awan mendung menggantung. Namun sekitaran Tugu Pahlawan telah penuh dengan berbagai macam pedagang kaki lima dan pengunjung yang sedang berwisata ke tempat ini.

Mata saya sekilas menangkap ada dorongan pedagang bertuliskan kreco di samping pedagang mangga. Aha! Baru kemarin saya membaca tentang cemilan kaki lima berbahan baku sejenis bekicot atau siput yang dibumbui bernama Kreco. Saya pun langsung berniat untuk mencoba makanan yang terdengar unik ini sehabis mengunjungi Tugu Pahlawan.

“Aku belum pernah masuk ke dalem (Tugu Pahlawan) lho,” jelas Putri yang sudah tinggal selama 7 tahun di Surabaya. Hmm, mungkin sama seperti saya yang belum pernah naik ke puncak Gedung Sate di Bandung, padahal saya sempat tinggal beberapa tahun di Kota Bunga tersebut.

Setelah membayar tiket masuk dan masuk ke dalam, kami pun berspekulasi tentang pilar-pilar di belakang patung Soekarno-Hatta. Putri bertanya-tanya apakah pilar-pilar yang bertuliskan seruan-seruan  “Merdeka ataoe mati!” dan “Allied forces go away!” itu asli apa bukan. (Jawaban untuk saat ini: pilar-pilar itu sepertinya cuma replika dari pilar gedung Raad van Justitie yang digunakan sebagai markas tentara Jepang yang dibakar dan dihancurkan oleh pejuang Surabaya pada pertempuran 10 November dan kini lokasinya menjadi area Tugu Pahlawan, CMIIW)

Memasuki Museum 10 November, saya seakan-akan diingatkan kembali tentang pelajaran sejarah saat SD. Sejarah perebutan dan pertahanan kemerdekaan Indonesia di otak saya yang terbolak-balik terasa disegarkan kembali. Beginilah kalau belajar sejarah hanya menghafal dan tidak dipahami, gampang lupanya!

Saat menatap patung pejuang kemerdekaan yang mengacungkan senjata dan tampak berseru ke arah bendera merah putih di bagian tengah museum, saya tiba-tiba merasa malu sendiri. Mereka sudah susah-susah merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah, sampai saat ini saya sudah berbuat apa saja ya untuk bangsa sendiri? Menularkan virus traveling itu termasuk apa ngga ya? Hehe..

Setelah puas berkeliling dan membaca sejarah pertempuran 10 November serta sejarah pendirian bangunan museum ini, kami pun hunting potongan mangga dan kreco. Mengingat cuaca di luar yang semakin terik, rupanya banyak pedagang yang telah membereskan jualannya dan pulang, termasuk pedagang mangga dan kreco. Kami pun berdesah kecewa … sampai tiba-tiba Putri berseru, “Mbak, itu kreco juga!” sambil menunjuk ibu-ibu yang mendorong gerobak bertulisan kreco Rp 5000 / sate kul Rp 1000.

“Ayo hadang dia Put!” seru saya berkelakar. Putri tertawa dan mengejar si ibu-ibu. Ah ternyata kreco-nya sudah habis, tinggal sate kul. Bahan dasarnya sih sama, sejenis keong-keongan, bedanya kalau kreco pakai kuah, kalau sate kul ya keong bumbu yang disate, demikian penjelasan si ibu-ibu itu. Kami langsung membeli lima tusuk.

Begitu kunyahan pertama tertelan, kami hanya terdiam. Dagingnya terasa agak alot, mirip dengan tektur kerang, bumbu rempahnya terasa kuat di lidah dengan sedikit rasa pahit. “Hmm, rasanya aneh,” Putri pun memutuskan untuk menyimpan sate kul-nya untuk lain kesempatan. Saya habis satu tusuk dan tidak tertarik untuk melanjutkan tusuk kedua.

“Kita sisain yuk buat anak-anak C2O,” saran saya jenius. Putri hanya tertawa lepas, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

Stadion Tambaksari, sore 11 Desember 2011

Jadikan perjalananmu sebagai tantangan.

Salah satu prinsip saya sebagai traveler tersebut sepertinya benar-benar terpakai untuk jadwal hari Minggu kali ini (11/12). Sampai sekarang saya masih suka heran kenapa saya kok mau-maunya diajakin nonton bola di Stadion Gelora 10 November, padahal kalau sedang iseng ikut nonton bola di tivi saja saya lebih sering ketiduran. Lapangan bola yang hijau dan white noise sorak sorai supporter seakan-akan sengaja meninabobokan saya. Mau pemainnya seganteng apa pun, rasanya tidak berpengaruh bagi saya. Ah, pokoknya kalau soal bola, saya benar-benar buta deh!

“Kamu harus ngeliat bonek, Mbak!” demikian perintah Ayos untuk program perjalanan paling serem dan ciamik se-Indonesia ini, Traveler in Residence (TiR). Tadinya sih saya biasa saja mendengarnya, tapi rada jiper juga saat Simbah mengatakan “Siap-siap aja, bonek itu terkenal beringas,” ketika bertugas mengantarkan saya menonton pertandingan Liga Premier Persebaya vs. Semen Padang FC.

Bonek itu singkatan dari bondo nekat, yang arti bahasa Surabaya-nya: Modal Nekad,” jelas Putri saat paginya mengantar saya berkeliling Tugu Pahlawan dan kawasan Pecinan. Oke. Tidak cukup membantu menenangkan rasa deg-deg-an saya.

Bagi yang buta bola seperti saya, begini penjelasan singkatnya: Bonek itu adalah sebutan dari suporter Persebaya, tim sepakbola Surabaya. Mengutip penjelasan Simbah, aliansi Persebaya adalah Persib, sedangkan musuhnya adalah Persija dan Arema. Warna tim Persebaya dominan hijau. Hmm, apa lagi ya… sementara itu dulu deh, kapasitas otak saya memang terbatas kalau soal bola, hehe..

Tapi sekarang saatnya menyingkirkan rasa deg-deg-an, karena tiket seharga Rp 50 ribu itu sudah ada di tangan saya. Gelora 10 November terlihat begitu ramai dan meriah dengan warna hijau ketika jam nyaris menunjukkan pukul tujuh sore, saat pertandingan dimulai.

Antrian bonek-bonek berkaus dan berselendang hijau bertuliskan Viking-Sebaya-Sehidup-Semati-atau-apalah-itu tampak mengular di luar gerbang stadion. Lucunya, lama kelamaan saya kok malah ketularan rasa semangat para bonek ini. Seulas senyum pun mulai terungkit di wajah saya, dan semakin berkembang saat menyadari bahwa ini pertama kalinya saya nonton bola di stadion. Namun senyum saya meredup tatkala saya merasakan tetesan air di kepala saya, membuat saya otomatis mendongak menatap langit malam. Semoga tidak hujan, batin saya dalam hati.

Tiket disobek. Masuk gerbang. Naik tangga. Cari posisi. Sorak sorai bergemuruh. Pertandingan dibuka. Hujan deras disertai angin kencang pun tiba. Dem, umpat saya dalam hati.

Hymne Persebaya terdengar dinyanyikan secara bersemangat di tengah hujan angin yang semakin deras. “Kurang nasionalis apa lagi coba?!” seru Simbah sambil tertawa-tawa. Saya membalas tertawa sambil mengamati lapangan hijau yang mulai tampak becek oleh hujan. Seorang bapak di depan saya tampak menaungi kepala anaknya dengan jaket biru yang dibawanya. Para bonek di sekeliling saya terlihat tetap bersemangat dalam euforia walaupun sekujur tubuh dan pakaian mereka basah kuyup oleh hujan. Jaket saya pun mulai terasa basah oleh hujan. Tas saya juga mulai terasa berat oleh rembesan air hujan. Oh, hujan… hujan… Nakal sekali dirimu. Saya yang saat itu juga telah basah kuyub dari atas sampai bawah hanya menatap hampa ke arah lapangan, mencoba berkonsentrasi, dan sesekali ikut berseru saat bola nyaris masuk ke gawang lawan. Duh, kaga ngerti ah ane..

Sayangnya level semangat saya tidak sama dengan para bonek ini. Begitu babak pertama berakhir dengan kedudukan sementara 0-1 antara Persebaya terhadap Semen Padang FC, saya menyerah. Saya memilih untuk tidak melanjutkan menonton karena tidak tahan oleh tiupan angin kencang disertai terpaan hujan yang cukup membuat menggigil. Cemen sekali ya saya, huahaha..

Pokoknya jadwal TiR hari Minggu ini benar-benar sangat berkesan bagi saya. Tantangan banget lah pokoknya. Patut dicoba kalau lagi bertandang ke Surabaya! Terimakasih juga buat Simbah yang telah mengantarkan dan mengamankan saya saat menonton pertandingan bola kemarin. Dari postur aja udah keliatan serem sih, jadi kalo ada yang mau macem-macem juga pasti mikir dua kali nih kayaknya, hehe..

Dan yang paling penting, ternyata bonek tidak semenakutkan seperti anggapan saya sebelumnya. Beberapa kali saya ikut tertawa mendengar banyolan beberapa orang bonek dengan pedagang yang hilir mudik di tengah hujan. Intinya sih, bonek sebenarnya cuma supporter biasa yang fanatik terhadap Persebaya, selama fanatisme tidak merugikan sekitar ya saya mah tidak ada masalah, hehe.. Oh ya, saran saya: bawalah ponco saat menonton bola di musim hujan. Sedia ponco sebelum hujan. Yeah! []

Herajeng Gustiayu

Advertisements

Tags: , , , , , , ,

One response to “Busy Sunday”

  1. jk says :

    bagus tulisannya, ngga bikin bosen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: