Heroes Monument

Seorang ibu tampak sibuk mengarahkan anak-anaknya untuk bergaya dan berfoto bersama di depan sebuah meriam tua. Perempuan paruh baya ini tampak kerepotan memegang handphone sekaligus mengatur si bungsu yang nampak enggan berpose manis seperti kakaknya yang lain. Mereka duduk di sebuah etalase dari kayu, tempat beberapa senjata api dipamerkan, di mana terpampang sebuah tulisan, “Dilarang Duduk Di sini”. Ah, tapi tampaknya larangan itu tak digubris, sang ibu masih berusaha memasukkan wajah si kecil dalam satu frame layar handphone mungil itu.

“Liburan ke museum bersama keluarga ternyata asik juga ya,” celetuk saya pada Mbak Ajeng. Saya sendiri sudah sangat lama tidak bepergian full team family, hmm terakhir mungkin di Borobudur pada saat saya masih kelas 4 atau 5 SD. Kami melakukan road trip panjang dari Jember, Jawa Timur hingga Metro, Sumatra Selatan. Setelah itu, saya maupun kakak saya tumbuh dewasa (secara usia), merantau menjauhi kota kelahiran ketika mengambil jenjang studi perguruan tinggi. Masing-masing lebih suka bepergian sendiri bersama teman-teman sebayanya.

Selama lebih dari 6 tahun berada di Surabaya, ini adalah kunjungan pertama saya ke Monumen Tugu Pahlawan. Kalau tidak ada program Traveler in Residence ini bisa jadi selamanya saya tidak pernah mampir ke sini. Hahaha…

“Duh 10 November itu ada apa ya dulu?” tanya Mbak Ajeng ketika melihat berbagai foto-foto jaman dulu.

“Itu Hari Pahlawan, Mbak…,” jawaban saya jelas tidak membantu.

“Kalau jaman sekolah, pelajaran Sejarah cuma dihapal ya, Put, biar dapet nilai bagus,” ujar Mbak Ajeng. Kami berdua lalu tertawa mempermalukan diri-sendiri.

“Put, ayo manjat ke atas! Biar dapet view luas, pasti bagus kalau digambar!” ajak Mbak Ajeng begitu keluar dari monumen. Saya dan Mbak Ajeng lalu mengendap-endap naik ke atas taman. Kami tidak tahu apakah ini diperbolehkan atau tidak. Tak apalah, kalau diteriaki oleh petugas, palingan ya kami harus segera turun dan ngacir saja. Yang jelas dari arah ini, area Tugu Pahlawan, atau yang dulu disebut dengan Aloon-Aloon Straat ini menjadi tampak lebih lebar dengan berbagai pemandangan gedung-gedung kolonial terekam dalam satu frame. Favorit saya, tentu saja Gedung Kantor Gubernur yang memiliki menara unik berbentuk kubus.

Setiap Minggu pagi Tugu Pahlawan diramaikan oleh pasar kaget, kami biasa menyebutnya dengan TP5. Berbagai pernak-pernik, dari yang hidup hingga mati, pakaian bekas pakai atau baru, permen kapas, balon, mainan, segala bentuk boneka ditambah lapangan hijau nan luas untuk area bermain tersedia satu paket di sini. TP5 memang semacam hari dan tempat yang sempurna untuk anak-anak kecil.

Advertisements

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: