Di Kebun Binatang

Kami mengunjungi Kebun Binatang Surabaya sambil membawa Ajeng ikut serta. “Aku sudah pernah masuk KBS sama sepupuku tahun 2008,” kata Ajeng. Sore sudah hampir lewat ketika kami baru saja tiba. Suasana begitu sepi karena bukan hari libur.

Kami baru sadar bahwa kebun binatang yang berdiri pada tahun 1916 dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) ini memiliki logo Komodo. Bagi kami ini adalah sebuah bentuk dari ketidaksesuaian yang lucu. Bagaimana mungkin KBS memiliki logo bergambar hewan yang bukan endemik Surabaya.

Saya punya usul kalo logo KBS itu diganti gambar bebek saja. Sedikit mirip logo Bebek Slamet yang siluet atau boleh juga yang sayapnya berwarna-warni seperti maskot warung sego bebek Purnama. Kenapa bebek? Karena sego bebek Suroboyo iku maknyus! Gak onok tandingane!

“Kenapa logonya Komodo sih pak?” tanya saya pada seorang petugas keamanan di pintu keluar.

“Karena hanya KBS yang breedingnya berhasil. Awalnya hanya delapan Komodo, tapi di sini beranak pinak sampai 44 ekor. Satu-satunya yang berhasil di Indonesia,” kata pak tersebut. Namanya saya nggak tahu, jadi kita sebut saja dengan sebutan “tersebut”.

Saya, Putri, dan Ajeng mengakui bahwa KBS adalah aset berharga Surabaya. The last green frontier. Jadi kalau ada isu KBS akan digusur diganti mal, maka –setidaknya– itu akan membuat kami bertiga sedih. Saya dan Putri yang orang Surabaya sedih. Ajeng yang bukan orang Surabaya juga sedih.

Oke sekian. Segala foto yang nginstagram di atas ini milik Dwi Putri Ratnasari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: