Monkasel

Seharian saya mengantar Ajeng mengunjungi Monkasel, monumen kapal selam yang terletak di sisi Kalimas itu. Tidak banyak perubahan yang terjadi sejak kunjungan pertama saya hampir 15 tahun yang lalu. Kecuali seorang wanita berdandan menor dan ketus yang bertugas merobek karcis di pintu masuk monumen.

“Mbak (Pasoepati) ini kapal selam pertama milik Indonesia kan?” tanya saya.

“Bukan!” titik. Lantas dia merobek ujung karcis saya. Sadis.

Ajeng hanya tertawa. Dan tawanya semakin keras manakala ia tahu bahwa Pasoepati bukanlah kapal selam pertama yang dimiliki RI. Bersama sepuluh kapal selam Rusia lainnya, Pasoepati adalah generasi kedua yang datang pada tahun 1952.

Setelah Monkasel, Ajeng saya ajak melewati gedung kesenian Cak Durasim yang sepi, melintas Pasar Genteng yang tumben tidak macet, lalu menuju Perpustakaan C2O untuk baca buku. Sorenya kami menuju kos Lukki untuk memasang beberapa program tambahan pada laptop Ajeng yang baru saja diformat. “Kemarin laptopnya abis dipake bapakku, jadi software di dalamnya hilang semua,” kata Ajeng.

Tapi malam kemarin Ajeng tidak kelaparan kawan. Karena dia saya ajak makan bebek Purnama yang cabangnya di mana-mana itu.

Advertisements

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: